Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, ancaman di dunia digital semakin mengkhawatirkan. Salah satu ancaman paling serius adalah ransomware, jenis serangan siber yang mencuri dan mengenkripsi data korban untuk meminta tebusan. Baru-baru ini, sebuah cuitan di X/Twitter dari akun @HackManac mengungkap dugaan bahwa Salah satu Bank di indonesia menjadi korban serangan kelompok ransomware bernama Bashe. Siapakah Bashe, dan mengapa kelompok ini begitu berbahaya? Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang Bashe dan dampaknya di dunia keamanan siber.
Bashe adalah kelompok ransomware yang muncul sebagai ancaman baru pada tahun 2024. Sebelumnya, kelompok ini dikenal dengan nama APT73 atau Eraleig. Bashe memperkenalkan dirinya dengan pendekatan yang mirip dengan kelompok ransomware terkenal lainnya seperti LockBit. Dengan target negara maju dan sektor strategis, Bashe akan menjadi perhatian besar di kalangan pakar keamanan siber.
Kelompok ini menggunakan metode pemerasan ganda (double extortion), di mana mereka tidak hanya mengenkripsi data korban tetapi juga mengancam untuk mempublikasikan data sensitif jika tebusan tidak dibayar. Untuk melancarkan aksinya, Bashe mengoperasikan situs berbasis jaringan anonim Tor yang disebut Data Leak Site (DLS). Situs ini memungkinkan mereka mempublikasikan data korban tanpa terdeteksi.
Bashe pertama kali terdeteksi pada pertengahan April 2024. Kelompok ini segera menarik perhatian karena mengidentifikasi diri sebagai Advanced Persistent Threat (APT). Sebutan ini biasanya digunakan oleh aktor siber yang sangat canggih, terorganisir, dan memiliki sumber daya besar. Namun, strategi pemasaran ini tampaknya digunakan Bashe untuk menegaskan kredibilitasnya sebagai ancaman serius dalam dunia ransomware.
Yang menarik, banyak pakar siber percaya bahwa Bashe memiliki hubungan erat dengan kelompok ransomware terkenal, LockBit. Dugaan ini didasarkan pada kemiripan struktur situs kebocoran data mereka, yang disebut Data Leak Site (DLS). DLS milik Bashe memiliki beberapa fitur identik dengan LockBit, seperti:
Kelompok ini menjalankan operasinya melalui jaringan Tor, yang dikenal karena anonimitasnya. Infrastruktur mereka di-host di Republik Ceko menggunakan AS9009 ASN, sebuah jaringan yang sebelumnya digunakan oleh kelompok ransomware lain seperti DarkAngels, Vice Society, dan TrickBot. Langkah ini menunjukkan bahwa Bashe memanfaatkan infrastruktur yang sudah dikenal dan andal untuk menghindari deteksi.
Bashe tidak hanya mengandalkan perangkat lunak ransomware untuk mengenkripsi data korban, tetapi juga menggunakan ancaman pemerasan data. Mereka mencuri data sensitif milik korban dan mengancam akan mempublikasikannya di situs DLS mereka jika tebusan tidak dibayar. Strategi ini memberikan tekanan tambahan pada korban, terutama perusahaan yang memiliki data pelanggan atau informasi bisnis yang sangat penting.
Selain itu, penggunaan Tor dan hosting berbasis ASN membantu Bashe tetap tersembunyi dari radar penegak hukum dan perusahaan keamanan siber. Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung anonimitas penuh, memungkinkan mereka beroperasi tanpa mudah dilacak.
Bashe menunjukkan fokus yang jelas pada negara maju dan sektor industri strategis. Langkah ini tidak hanya mencerminkan ambisi global mereka, tetapi juga menunjukkan perencanaan yang matang dalam memilih korban dengan potensi keuntungan besar.
Negara yang Disasar
Bashe telah menyerang organisasi di berbagai negara, termasuk:
Negara-negara ini memiliki banyak organisasi yang menangani data bernilai tinggi, menjadikannya target ideal untuk pemerasan. Selain itu, mereka biasanya memiliki kemampuan finansial untuk membayar tebusan yang diminta.
Industri yang Disasar
Kelompok ransomware ini juga memilih sektor industri yang sangat penting dan bernilai tinggi, seperti:
Selain itu, Bashe juga menargetkan sektor-sektor lain yang memiliki peran penting dalam perekonomian, seperti:
Dengan menargetkan sektor-sektor ini, Bashe meningkatkan daya tawar mereka saat meminta tebusan. Korban sering kali merasa terpaksa untuk membayar demi melindungi data mereka dan menghindari dampak lebih besar, seperti hilangnya kepercayaan pelanggan atau kerugian finansial.
Hingga saat ini, Bashe dilaporkan telah menyerang sekitar 35 korban. Jumlah ini mungkin tampak kecil dibandingkan kelompok ransomware besar lainnya, tetapi dampaknya tidak boleh diremehkan. Serangan ini menimbulkan kerugian finansial yang signifikan, hilangnya data penting, dan gangguan operasional yang serius bagi para korban.
Dalam beberapa kasus, organisasi yang menjadi korban ransomware harus mengeluarkan biaya besar untuk pemulihan, termasuk membayar tebusan, memperbaiki sistem keamanan, dan menangani dampak reputasi.
Meningkatnya ancaman ransomware seperti Bashe menuntut organisasi untuk lebih waspada dan proaktif dalam melindungi sistem mereka. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
Bashe adalah contoh nyata bagaimana ransomware terus berevolusi dan menjadi ancaman yang lebih canggih. Dengan fokus pada negara maju dan sektor strategis, kelompok ini menunjukkan kemampuan perencanaan yang matang dan penggunaan teknologi untuk menyembunyikan jejak mereka.
Namun, dengan pendekatan keamanan yang tepat, organisasi dapat mengurangi risiko serangan ransomware. Edukasi, teknologi keamanan, dan kebijakan proaktif menjadi kunci untuk menghadapi ancaman seperti Bashe. Dalam dunia digital yang terus berkembang, perlindungan data menjadi prioritas utama bagi semua pihak.